SEMARANG — Ratusan ekor monyet ekor panjang turun dari habitatnya dan merusak tanaman pertanian warga di berbagai titik Jawa Tengah. Serangan terparah dilaporkan terjadi di Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, di mana koloni monyet merusak sekitar 10 hektare lahan yang tersebar di tujuh dusun.
Tanaman seperti daun bawang, tomat, buncis, cabai, hingga bunga mawar dan alpukat menjadi sasaran. Petani mengaku kewalahan karena jumlah monyet mencapai ratusan ekor dan tidak mudah takut saat diusir.
Kerugian Capai Ratusan Juta Rupiah
Di sejumlah daerah terdampak, kerugian petani ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. Komoditas bernilai ekonomi tinggi seperti daun bawang dan berbagai jenis buah menjadi yang paling banyak rusak.
Warga Kampung Kalialang Baru, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, melaporkan kawanan yang diduga berasal dari kawasan Gunung Ungaran atau Goa Kreo masuk ke lahan pertanian hampir setiap hari. Jumlahnya diperkirakan mencapai 150 ekor.
“Pisang yang belum sempat dipanen habis dimakan, bahkan sejak masih berupa jantung,” keluh warga setempat. Tanaman lain yang turut diserang meliputi mangga, pepaya, jambu, sirsak, hingga singkong.
Mengapa Monyet Turun Gunung?
Kepala Bidang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Rehabilitasi, dan Konservasi Sumber Daya Alam DLHK Jawa Tengah, Puji Harini, menjelaskan keterbatasan makanan dan air di habitat alami menjadi pemicu utama.
“Mereka kerap turun jika sumber pakan berkurang. Bisa juga karena habitat aslinya sudah tidak nyaman,” ujarnya.
Selain faktor kemarau, kerusakan habitat akibat alih fungsi lahan turut mendorong satwa mencari sumber makanan di luar kawasan hutan. Daerah yang berpotensi mengalami gangguan serupa meliputi Magelang, Boyolali, Klaten, Temanggung, Wonosobo, Karanganyar, Wonogiri, hingga Sragen.
Gangguan Hingga ke Area Rumah Sakit
Di Kabupaten Semarang, serangan juga terjadi di Desa Gogik, Kecamatan Ungaran Barat. Kawanan monyet masuk ke area permukiman dan merusak tanaman seperti pisang, alpukat, nangka, rambutan, cabai, dan terong.
“Monyet-monyet itu merusak tanaman yang sudah berbuah. Yang paling banyak rusak alpukat dan nangka,” kata Ketua RT setempat.
Di Sragen, kawanan monyet bahkan sempat masuk ke kompleks RSUD Tangen pada awal April 2026. Pihak rumah sakit memastikan keberadaan satwa tersebut tidak mengganggu pasien meski lokasi rumah sakit berdekatan dengan kawasan hutan.
Upaya Pengusiran Belum Efektif
Petani di sejumlah wilayah mengaku telah mencoba berbagai cara untuk menghalau kawanan monyet, mulai dari membuat suara gaduh, menggunakan senapan angin, hingga memasang jaring. Namun, berbagai cara tersebut belum sepenuhnya efektif karena monyet telah terbiasa dengan upaya pengusiran dan kembali datang secara berkelompok.
DLHK Jawa Tengah bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Salah satu langkah yang disarankan adalah membuat embung kecil di sekitar habitat untuk menyediakan sumber air sekaligus menjaga ketersediaan pakan alami, sehingga satwa tidak perlu keluar dari habitatnya.