Akademisi Internasional di UIN Walisongo Semarang: Islam Indonesia Punya Modal Besar Jadi Kekuatan Lunak Global

Penulis: Gunawan Susilo  •  Rabu, 12 Agustus 2026 | 13:13:31 WIB
Akademisi internasional dan nasional menghadiri International Seminar on Indonesian Islam and Global Affairs di UIN Walisongo Semarang, Senin (10/8/2026).

SEMARANG — Gagasan mengenai posisi strategis Islam Indonesia di tengah dinamika global mengemuka dalam International Seminar on Indonesian Islam and Global Affairs yang digelar Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Senin (10/8/2026). Forum di Ruang Teater Gedung Kiai Saleh Darat itu menghadirkan akademisi seperti Prof. Dr. Robert W. Hefner dan Prof. Sumanto Al Qurtuby untuk membedah tantangan umat Islam, termasuk konflik di Timur Tengah.

Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Musahadi, M.Ag., menyebut forum ini menjadi momentum bagi sivitas akademika untuk mendiskusikan persoalan dunia dari perspektif keilmuan. "Ini merupakan kesempatan besar yang bisa kita manfaatkan untuk berdiskusi tentang permasalahan global yang muncul dan kita hadapi sebagai umat Muslim di Indonesia," ujarnya.

Jebakan Menyamakan Negara, Pemerintah, dan Individu saat Membaca Konflik

Dalam paparannya, Prof. Sumanto Al Qurtuby mengingatkan bahaya penyederhanaan dalam membaca konflik Timur Tengah. Ia menilai konflik di kawasan tersebut tidak bisa dipahami hanya sebagai persoalan agama, melainkan hasil jalinan banyak faktor yang kompleks.

Menurutnya, ada tiga cara pandang yang umum berkembang di masyarakat: konflik agama, perang proksi, atau dampak intervensi Amerika Serikat. Namun, ia menekankan dinamika internal masing-masing negara justru kerap menjadi pemicu utama yang luput dari perhatian.

"Konflik yang kompleks ini muncul karena adanya dinamika internal bagi masing-masing negara," jelasnya. Perebutan wilayah, kompetisi kekuasaan berbasis etnis, hingga perseteruan antarkelompok disebutnya sebagai faktor yang saling bertautan.

Ia juga meminta publik memisahkan posisi ketika menganalisis konflik internasional. "Harus dibedakan antara perspektif negara, personal, atau pemerintah," katanya. Pemahaman yang lebih utuh dinilai penting agar publik Indonesia tidak mudah terseret dalam narasi konflik yang latar sosial dan sejarahnya berbeda dengan kondisi lokal.

Modal Sosial Islam Indonesia: Besar, Aktif, dan Demokratis

Sementara itu, Prof. Robert W. Hefner menyoroti pengalaman Indonesia dalam membangun kehidupan Islam yang berinteraksi dengan keragaman budaya. Ia menilai karakter ini menjadi pembeda utama yang layak dikaji dalam konteks perkembangan Islam dunia.

Beberapa ciri khas yang disorot Hefner antara lain tingginya kemajemukan hubungan antara Islam dan tradisi masyarakat, serta kemampuan pemimpin Muslim beradaptasi dengan arus modernisasi. Keberadaan organisasi kemasyarakatan Islam dalam skala besar juga disebutnya sebagai kekuatan tersendiri.

"Umat Islam Indonesia itu besar, aktif, dan demokratis," ujar Hefner. Menurutnya, modal sosial ini menjadi fondasi penting bagi kehidupan keagamaan yang terbuka sekaligus berkontribusi nyata bagi masyarakat.

Perlunya Blueprint Soft Power Berbasis Islam Indonesia

Perspektif lain datang dari Prof. Dr. Muhyar Fanani yang melihat peluang Islam Indonesia sebagai bagian dari kekuatan lunak nasional. Ia menilai pengalaman mengelola demokrasi dan keberagaman bisa memperkuat posisi Indonesia di percaturan internasional.

Untuk mewujudkannya, Muhyar mendorong adanya strategi yang terarah dan berkelanjutan. Ia mengusulkan penyusunan blueprint komprehensif yang menempatkan Islam Indonesia sebagai salah satu fondasi pengembangan kekuatan lunak nasional.

Dengan pendekatan tersebut, Islam Indonesia tidak hanya dimaknai sebagai identitas keagamaan. Lebih dari itu, ia berpotensi menjadi kekuatan sosial, intelektual, dan diplomasi yang memberikan kontribusi nyata dalam hubungan internasional.

Seminar ini pada akhirnya menjadi ruang pertemuan gagasan akademik tentang Islam Indonesia dengan isu-isu global. Diskusi tersebut sekaligus menegaskan bahwa pengalaman Islam lokal dalam mengelola keberagaman memiliki potensi untuk terus dikembangkan sebagai bagian dari kontribusi bangsa di panggung dunia.

Reporter: Gunawan Susilo
Sumber: jatengnews.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top