Pencarian

Warung Nunung Srimulat Pindah dari Purwosari Solo ke Ngemplak Boyolali, Ini Alasan di Baliknya

Jumat, 09 Oktober 2026 • 11:16:01 WIB
Warung Nunung Srimulat Pindah dari Purwosari Solo ke Ngemplak Boyolali, Ini Alasan di Baliknya
Warung makan Nunung Srimulat kini beroperasi di Sawahan, Ngemplak, Boyolali, setelah sebelumnya berada di Purwosari, Solo.

BOYOLALI — Warung makan milik komedian Nunung Srimulat yang saat ini beroperasi di Sawahan, Ngemplak, Boyolali, ternyata pernah menempati lokasi di Purwosari, Solo. Perpindahan itu bukan tanpa sebab. Nunik, adik Nunung yang mengelola dapur warung, menyebut persoalan lahan parkir jadi pertimbangan utama keluarga saat memutuskan pindah lokasi.

Kepada wartawan saat ditemui di warungnya, Nunik menuturkan bahwa lokasi di Purwosari sebenarnya ramai pembeli. Namun, tidak tersedianya area parkir yang memadai membuat banyak pelanggan mengeluh.

"Yang di Purwosari itu ramai, tadinya. Cuma parkirnya yang nggak ada. Karyawan juga dari komentar-komentar itu, 'Ke sana aja parkirnya nggak ada'," kata Nunik.

Omzet Puluhan Juta per Hari Sebelum Sepi

Nunik mengenang masa-masa awal warung beroperasi di Purwosari pada 2024. Saat itu, pembeli datang silih berganti hingga omzet harian menembus puluhan juta rupiah.

"2024 di Purwosari. Purwosari itu sempat ramai, Mbak. Omzetnya sampai puluhan juta. Sehari itu puluhan juta," ujarnya.

Pada enam bulan pertama, Nunik mengaku kewalahan melayani pesanan. Ia bahkan bisa menghabiskan satu karung beras dalam sehari untuk memasak.

"Masak nasi aja satu karung, satu karung tiap hari. Saya yang masak. Jadi stok habis, masak lagi, masak lagi," ucapnya.

Kondisi itu berangsur berubah. Jumlah pembeli terus menyusut hingga warung akhirnya berhenti beroperasi di Purwosari saat masa kontrak tempatnya habis.

"Berjalan sampai satu tahun lebih, terus akhirnya 'udah, stop dulu aja lah'. Karena memang sudah nggak ngangkat," kata Nunik.

Pindah ke Ngemplak, Sempat Ramai Lagi saat Awal Buka

Setelah mencari lokasi baru, keluarga memilih tempat di Sawahan, Ngemplak, Boyolali. Lokasi itu dipilih karena rumah kakak Nunung tidak jauh dari sana. Warung mulai buka sekitar awal puasa 2026.

Pada masa awal operasional, warung kembali kebanjiran pembeli. Nunik menyebut dirinya sempat memasak hingga 10 kilogram nasi dalam sehari.

"Pas puasa itu alhamdulillah ramai. Kemarin-kemarin pas bukaan pertama di sini itu ya sampai 10 kilo," katanya.

Sayangnya, keramaian itu tidak bertahan lama. Jumlah pembeli perlahan menurun meski lokasi baru sudah memiliki area parkir yang memadai.

"Sekarang 1 kilo ini, Mbak. Ini sepi. Tadinya pas buka pertama di sini sampai 10 kilo," ujarnya.

Menu Dikurangi agar Masakan Tetap Segar

Penurunan jumlah pembeli membuat pengelola warung menyesuaikan jumlah masakan. Nunik kini memasak dalam porsi terbatas supaya makanan tidak banyak tersisa.

"Makanya menunya sekarang tak kurangin banget. Kalau sayurnya tadinya ada tumpang, ada ini, ada ini. Sekarang sudah dikurangi," jelasnya.

Nunung, kata Nunik, meminta agar makanan yang dijual selalu dalam kondisi segar. Karena itu, jumlah masakan disesuaikan dengan kondisi penjualan harian.

"Masakannya di sini, fresh. Sekarang kalau nggak habis, ya besok ganti yang baru," ucapnya.

Sebagai adik bungsu Nunung, Nunik menjadi salah satu orang yang menangani dapur warung. Ia harus berbelanja bahan makanan sejak subuh sebelum mulai memasak.

"Saya kalau sih dari subuh ya, Mbak. Saya ke pasar, saya masih belanja. Sekarang apalagi kondisi kayak gini sudah apa-apa mahalnya minta ampun," katanya.

Nunik menambahkan, kondisi sepi membuat pengelola harus lebih berhati-hati mengatur bahan makanan. Jika terlalu banyak memasak, makanan berisiko tidak habis dan harus diganti keesokan harinya.

"Sayang kalau aku bikin yang pedas-pedas, padahal besok harus ganti. Makanya menunya sekarang tak kurangin banget," imbuhnya.

Kontrak Tempat Masih Berjalan Satu Tahun Lebih

Meski kondisi warung tengah sepi, Nunik memastikan usaha tersebut masih tetap beroperasi. Kontrak tempat usaha saat ini masih tersisa sekitar satu tahun lebih dan telah dibayar penuh di muka.

"Masih ngontrak, masih satu tahun lagi. Masih satu tahun lebih. Sudah dibayar full," ujarnya.

Sebelumnya, Nunung sempat membeberkan kejadian janggal terkait penurunan drastis usaha rumah makannya. Ia mengaku keluarganya berulang kali menemukan benda menyerupai tanah kuburan di area warung.

"Tanah kuburan. Itu berkali-kali seperti ini. Nah, nih. Ya sembarang aja, pokoknya gak tahu dilempar atau apa, aku nggak ngerti. Pokoknya di halaman parkiran sama mau masuk halaman joglo warung," kata Nunung saat ditemui di Studio Trans TV, Jakarta Selatan.

Nunung mengaku sempat tidak percaya dengan laporan tersebut. Namun, ia mulai berpikir ke arah sana ketika dikaitkan dengan sepinya warung yang dikelolanya.

"Sebetulnya kalau aku pertama kali dikasih laporan, dikasih fotonya gitu, buat aku sih percaya gak percaya karena aku orangnya gak percayaan hal-hal kayak gitu. Cuma kalau dikait-kaitkan dengan sepinya warung, mulailah kita berpikir ke sana, tapi aku tetap positif terus, dan selalu bilang benahi ke dalam," tutur Nunung.

Follow www.semarang24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks