JAWA TENGAH — Bradford City kehilangan manajer Graham Alexander yang hengkang ke Preston, tepat saat The Bantams memuncaki klasemen League One. Kekosongan kursi pelatih ini menjadi pukulan telak bagi ambisi promosi ke Championship setelah 23 tahun absen.
Alexander mengundurkan diri dari jabatannya di Valley Parade setelah menerima tawaran dari Preston North End. Kepergiannya terjadi kurang dari dua bulan sejak musim bergulir, padahal manajemen sudah belanja pemain pada bursa transfer musim panas khusus untuk gaya sepak bola agresif dan pressing tinggi yang ia racik.
Pelatih sementara Mark Trueman dan Colin Doyle langsung menggelar pertemuan dengan skuad pada Senin. Trueman mengakui kondisi ruang ganti sempat goyah setelah kabar kepergian Alexander tersiar.
"Beberapa pemain agak gelisah, tidak tahu apa yang sedang terjadi atau siapa yang akan memimpin tim," kata Trueman. "Tapi para pemain tetap menjalankan tugas, dan itu kuncinya. Ini menunjukkan mentalitas tim. Situasi ini bisa saja menggagalkan mereka, tapi mereka terus melakukan hal yang benar."
Rekor Alexander yang Sulit Ditandingi di Bradford
Alexander meninggalkan Bradford dengan catatan 79 kemenangan dari 158 pertandingan. Rasio kemenangan itu terbaik di antara manajer Bradford yang menangani minimal 65 laga. Ia juga membawa klub promosi otomatis dari League Two pada musim keduanya, lalu finis keempat di League One musim berikutnya sebelum tersingkir di semifinal play-off pada Mei lalu.
Pada satu fase, Bradford memenangkan 10 pertandingan kandang beruntun dan memecahkan rekor klub yang bertahan sejak 1953. Sepanjang 2025, mereka mencatat rekor kandang terbaik di antara klub-klub lima liga top Eropa.
Direktur eksekutif Ryan Sparks menyebut Alexander dan asistennya, Chris Lucketti, telah memberikan "beberapa momen paling luar biasa dalam sejarah terkini klub".
Kekalahan dari Reading dan Bayang-Bayang Pelatih Baru
Di lapangan, Bradford sempat unggul cepat saat Jake Beesley mencetak gol pada menit keempat di Select Car Leasing Stadium. Sebanyak 1.118 suporter yang menempuh perjalanan 400 mil menyanyikan lagu tentang posisi puncak klasemen, tetapi tidak sekali pun menyebut nama manajer yang pergi.
Keunggulan itu sirna setelah Udoka Godwin-Malife menyamakan kedudukan di babak kedua. Hasil imbang ini membuat Plymouth Argyle menyalip Bradford di klasemen berdasarkan selisih gol.
Di bangku cadangan Reading berdiri Leam Richardson, salah satu kandidat kuat pengganti Alexander. Richardson sebelumnya bekerja dengan sporting director Bradford, David Sharpe, saat menjadi ketua di Wigan, dan pernah melatih dua pemain Bradford saat ini, Callum Connolly dan Nick Powell.
Kandidat Pengganti dan Tekanan pada Manajemen
Nama lain yang masuk bursa adalah manajer Plymouth, Tom Cleverley. Mantan gelandang Manchester United yang menjuarai Premier League 2013 itu, kini berusia 37 tahun, membangun reputasi kepelatihannya dalam dua tahun terakhir.
Bradford kini berada di wilayah tak biasa. Untuk pertama kalinya dalam 43 tahun, mereka kehilangan manajer di tengah musim. Sebagian besar penggemar menilai Alexander meninggalkan klub dalam kondisi lebih kuat, tetapi minoritas cukup besar mempertanyakan timing kepergiannya.
Keputusan penunjukan pelatih berikutnya menjadi taruhan besar. Keberhasilan merekrut Alexander membuat kesalahan memilih pengganti berpotensi jauh lebih mahal bagi ambisi Bradford kembali ke Championship.