Makan Bersama Orangtua Bantu Kecerdasan dan Emosi Anak

Penulis: Joko Purnomo  •  Sabtu, 10 Oktober 2026 | 11:22:01 WIB
Anak belajar pola makan dan perilaku sosial melalui kebiasaan makan bersama orangtua.

JAWA TENGAH — Makan bersama keluarga bukan cuma soal asupan gizi. Kebiasaan sederhana ini jadi momen anak belajar bicara, mengenal emosi, dan meniru perilaku orangtuanya. Simak penjelasan pakar soal manfaat makan bersama untuk kecerdasan dan sosial anak.

Dokter Ray Wagiu Basrowi, Medical & Scientific Affairs Director Danone Indonesia sekaligus Executive Director Indonesia Health Development Center (IHDC), menyebut makan bersama bisa menstimulasi tiga jalur perkembangan anak sekaligus: biologis, stimulasi, dan lingkungan keluarga. Menurutnya, anak balita paling mudah meniru perilaku yang mereka lihat setiap hari, termasuk pola makan orangtuanya.

Anak Belajar dari Meja Makan, Bukan dari Layar

Kebiasaan makan orangtua jadi contoh langsung yang gampang ditiru anak. Ray menyebut pola makan sebagai salah satu tipe perilaku yang paling cepat di-copy paste oleh balita.

"Yang namanya pola makan itu salah satu tipe perilaku yang paling gampang di-copy paste oleh balita," katanya.

Karena itu, ajak anak duduk di meja makan dan santap hidangan bersama-sama. Sesuaikan porsi dengan kebutuhan anak, lalu simpan dulu ponsel dan gawai supaya interaksi keluarga lebih optimal.

Satu Kegiatan, Banyak Aspek Kecerdasan yang Terasah

Senior Psikolog Klinis Ratih Ibrahim, M.M, menegaskan stimulasi anak tidak harus selalu lewat permainan edukatif atau kegiatan khusus. Aktivitas rutin di rumah, termasuk makan bersama, sudah memberi pengalaman belajar yang bermakna.

"Pada saat kita memberikan satu stimulasi itu makan itu semua aspek kecerdasan juga berkembang," ujar Ratih.

Saat makan bersama, anak tidak hanya mendapat nutrisi. Ia juga belajar berkomunikasi, mengamati, dan berinteraksi dengan anggota keluarga. Dari situ anak berlatih memahami emosi, berempati, menyesuaikan diri dengan lingkungan, sampai membangun hubungan dengan orang lain.

Kecerdasan anak pun tidak sebatas nilai akademis. Aspek sosial dan emosional yang tumbuh dari meja makan ikut berperan dalam kehidupan sehari-harinya.

Kenapa Makan Bersama Perlu Jadi Rutinitas

Kesibukan kerja dan aktivitas harian sering bikin orangtua sulit menyediakan waktu berkualitas bersama anak. Ratih menilai makan bersama bisa jadi cara praktis menghadirkan stimulasi tanpa menambah kegiatan baru ke dalam jadwal keluarga.

"Makan bersama-sama adalah salah satu cara stimulasi yang dengan satu kegiatan yang sangat menyenangkan dapatnya banyak," ujar Ratih.

Ia mengingatkan waktu bersama anak sebaiknya dipandang sebagai investasi untuk tumbuh kembangnya, bukan sekadar aktivitas yang dilakukan saat orangtua punya waktu luang.

"Jadi kami bukan meluangkan waktu, menginvestasikan waktu karena stimulasi," katanya.

Ray menambahkan, tugas orangtua adalah memastikan proses makan jadi proses paling produktif yang dilewati anak setiap hari bersama orangtua. Ia menyarankan setidaknya satu kali makan bersama setiap hari.

Mulai dari Satu Kali Sehari

Tidak perlu menunggu jadwal lengkap atau suasana sempurna. Cukup upayakan satu kali makan bersama setiap hari, tanpa gawai, dengan porsi yang sesuai kebutuhan anak.

Dari kebiasaan itu anak mendapat asupan gizi, contoh perilaku positif, dan kesempatan mengembangkan kemampuan berinteraksi dalam keluarga. Satu kegiatan, manfaatnya panjang untuk tumbuh kembangnya.

Reporter: Joko Purnomo
Sumber: metapos.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top