SEMARANG — Penurunan muka tanah di Kota Semarang tercatat mencapai 10 sentimeter per tahun. Angka itu membuat upaya mempertahankan kota dari terjangan rob dan abrasi menjadi semakin berat, terutama bagi warga yang tinggal di kawasan pesisir.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menyebut persoalan pesisir sudah berlangsung lama dan terus menekan kehidupan warga. Wilayah barat seperti Kecamatan Tugu menghadapi abrasi yang membuat garis daratan semakin terdesak.
Rob yang datang berulang memperberat kondisi tersebut. Warga pesisir pun harus berulang kali meninggikan rumah agar tetap dapat ditinggali.
Dalam konsultasi publik AMDAL Giant Sea Wall Teluk Semarang Tahap 1 di Aula Balai Kota Semarang, Agustina meminta seluruh peserta menyampaikan kondisi dan masukan dari lapangan secara terbuka. Data itu dinilai penting agar kajian AMDAL benar-benar sesuai dengan kondisi masyarakat pesisir.
"Saya minta kepada kawan-kawan sekalian, camat, lurah, dan semua stakeholder yang hadir di konsultasi publik ini, sampaikan saja. Sehingga data-data yang dihimpun oleh tim ini betul-betul dapat menghasilkan sebuah analisis yang komprehensif," tegasnya.
Konsultasi publik tersebut dihadiri Tenaga Ahli Utama Pusat, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Tengah, dan Tim Penyusun AMDAL dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Hadir pula camat, lurah, dan tokoh masyarakat pesisir se-Kota Semarang.
Agustina menggambarkan adaptasi warga pesisir sebagai keseharian yang berlangsung bertahun-tahun. Rumah dan lingkungan mereka terus disesuaikan dengan kondisi rob yang datang berulang.
"Bertahun-tahun kita berjibaku tentang bagaimana kita tetap mempertahankan kota ini dengan penurunan 10 cm per tahun, dengan segala cara dan upaya. Warga masyarakat kita, terutama kawan-kawan yang ada di pesisir, sudah hidup dengan bagaimana kemudian beradaptasi dengan lingkungan," ujar Agustina.
Kondisi itu menunjukkan persoalan pesisir Semarang telah berlangsung dalam waktu panjang dan belum terselesaikan. Pembangunan tanggul laut menjadi bagian dari program pemerintah pusat yang diharapkan menjawab kebutuhan tersebut.
Pemkot Semarang menaruh harapan besar pada pembangunan Giant Sea Wall Teluk Semarang Tahap 1. Agustina menilai proyek itu dapat menjawab kebutuhan masyarakat yang selama puluhan tahun menghadapi persoalan pesisir.
"Mudah-mudahan proyek ini dapat berjalan sesuai dengan yang kita harapkan dan memang sudah dinantikan oleh warga Kota Semarang sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu," pungkas Agustina.
Sebelum pembangunan dilaksanakan, proyek ini perlu melalui kajian AMDAL. Hasil konsultasi publik bersama camat, lurah, dan tokoh masyarakat pesisir akan menjadi bahan bagi tim penyusun dalam merampungkan analisis dampak lingkungan.