Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rembang menggelar Festival Unen-Unen di Rumah Dinas Wakil Bupati Rembang, Sabtu (26/9) malam, dengan melibatkan sekitar 200 pelajar SD dan SMP. Festival ini menjadi ruang pertemuan berbagai kesenian daerah sekaligus upaya mempercepat regenerasi pelaku seni di kabupaten tersebut. Beragam pertunjukan ditampilkan, mulai dari barongsai, leang-leong, Barongan Ndas Papat, hingga geguritan.
REMBANG — Pelaksana tugas Kepala Dinbudpar Kabupaten Rembang Isti Choma Wati menyebut nama "unen-unen" sengaja dipilih agar menimbulkan rasa penasaran masyarakat terhadap isi festival. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pementasan kesenian dan kebudayaan daerah yang menyasar pelajar dari berbagai jenjang.
Festival Unen-Unen menampilkan kesenian dan kebudayaan khas Kabupaten Rembang. Pelajar dari SD dan SMP negeri maupun swasta serta sekolah di bawah Kementerian Agama turut dilibatkan dalam kegiatan ini.
Menurut Isti, festival ini menjadi bagian dari upaya mempercepat regenerasi pelaku seni di Kabupaten Rembang. Karena itu, pelajar dari berbagai jenjang dan latar belakang sekolah dilibatkan dalam kegiatan kebudayaan.
"Kita rangkul semua agar regenerasi kita lebih cepat. Di SMP kemarin ada 100 siswa dan hari ini SD juga 100 siswa," ujarnya.
Sebelum Festival Unen-Unen, Dinbudpar menggelar Rembangan Fest yang melibatkan sekitar 100 pelajar SMP. Dalam kegiatan tersebut, para siswa mendapatkan edukasi membuat wayang berbahan jerami sekaligus menikmati pertunjukan kesenian.
Sementara Festival Unen-Unen menyasar pelajar SD dengan kegiatan edukasi teknik mewarnai. Pola serupa diterapkan untuk menjangkau kelompok usia yang lebih muda.
Pertunjukan kesenian yang ditampilkan dalam Festival Unen-Unen meliputi barongsai dan leang-leong, Barongan Ndas Papat, Unen-Unen Rengel, hingga geguritan. Festival ini juga memberikan ruang bagi kesenian barongsai untuk tampil di hadapan masyarakat Rembang.
Stephen, salah seorang pemain barongsai, mengaku senang dapat tampil bersama timnya dan kelompok seni lainnya.
"Harapan saya barongsai semakin lama semakin maju dan rakyat semua bisa lihat barongsai tersebut. Semoga event seperti ini bisa lancar, terus maju, sering-sering supaya jadi hiburan bagi rakyat," ujarnya.
Nuansa tradisional hadir melalui berbagai makanan dan minuman yang disediakan selama kegiatan berlangsung. Pengunjung dapat menikmati kacang, telo godhok, hingga kopi lelet sembari menyaksikan pertunjukan.
Rangkaian kegiatan ini menempatkan pelajar sebagai peserta aktif, bukan sekadar penonton. Dinbudpar Kabupaten Rembang menyiapkan edukasi teknik mewarnai bagi siswa SD sebagai bagian dari Festival Unen-Unen.
Festival Unen-Unen menjadi kelanjutan dari Rembangan Fest yang lebih dulu digelar. Keduanya sama-sama menyasar pelajar sebagai target utama regenerasi seni di Kabupaten Rembang.