Banjir Bandang Terjang Nagari Batang Barus Solok, 100 Rumah Rusak dan Akses Padang-Solok Putus

Penulis: Joko Purnomo  •  Kamis, 24 September 2026 | 11:17:01 WIB
Banjir bandang menerjang Nagari Batang Barus, Solok, setelah hujan deras di kawasan hulu Gunung Talang.

SOLOK — Banjir bandang yang melanda Nagari Batang Barus terjadi setelah hujan deras mengguyur kawasan hulu Gunung Talang. Aliran air datang tiba-tiba dengan kecepatan tinggi, membawa lumpur, batu, dan pohon tumbang yang menghantam permukiman warga. Sejumlah kendaraan yang terparkir di sekitar lokasi turut tersapu arus.

Tim SAR gabungan masih melakukan pencarian terhadap korban yang belum ditemukan. Proses evakuasi warga terdampak terus berjalan seiring kondisi cuaca di sekitar lokasi.

Apa yang Membedakan Banjir Bandang dari Banjir Biasa?

Perbedaan utama terletak pada kecepatan aliran dan material yang terbawa. Banjir bandang datang tiba-tiba dengan arus lebih kuat dan daya rusak lebih besar dibanding banjir biasa.

Guru Besar Geologi Teknik dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada, Dwikorita Karnawati, menjelaskan bahwa material yang dibawa banjir bandang dapat berupa lumpur, batu, hingga pohon tumbang. Material tersebut berasal dari wilayah hulu yang terkikis oleh aliran air deras.

Banjir biasa umumnya dipicu hujan deras dan buruknya sistem drainase. Sampah yang menyumbat sungai atau saluran memperparah genangan karena volume air semakin besar.

Mengapa Banjir Bandang Bisa Terjadi Tanpa Hujan di Wilayah Hilir?

Aliran deras dari bagian hulu dapat bergerak menuju wilayah lebih rendah secara tiba-tiba. Kondisi ini membuat banjir bandang bisa terjadi tanpa hujan terlebih dahulu di wilayah hilir yang terdampak.

Curah hujan tinggi meningkatkan debit sungai dan memicu banjir bandang. Risiko bertambah ketika air tidak terserap tanah atau tidak dapat mengalir menuju sungai.

Faktor geologi juga menentukan besarnya risiko di suatu wilayah. Struktur tanah, kemiringan lereng, dan kondisi sungai memengaruhi kecepatan serta daya rusak aliran yang turun dari hulu.

Penebangan Hutan dan Pembangunan di Kawasan Rawan Perbesar Risiko

Penebangan hutan secara liar meningkatkan risiko banjir bandang. Berkurangnya vegetasi membuat tanah kehilangan kemampuan menyerap dan menahan air.

Kerusakan hutan, penyempitan sungai, dan pembangunan di daerah rawan memperbesar risiko bencana. Pengelolaan kawasan hulu dan saluran air perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk menekan potensi kejadian serupa.

Masyarakat di kawasan dekat sungai dan lereng perlu memantau informasi cuaca secara berkala. Evakuasi segera dilakukan jika hujan deras berlangsung lama atau air sungai berubah keruh dan naik cepat.

Reporter: Joko Purnomo
Sumber: rri.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top